Tag

, ,

image

Aku baru aja sampe di kamar, lagi rebahan sambil nulis apa yang mau aku ceritain tentang hari ini. Tapi sebelumnya aku abis saliman dulu sama mama juga papa yang lagi asik nonton teve bersama kedua adikku yang sedang mewarnai buku gambarnya.

Tadi siang sekitar jam 12 aku berangkat dari rumah naik ojek online ke Jakarta Convention Center (JCC) buat ketemu penulis yang aku suka, sebenernya gak suka-suka amat, soalnya dia sudah beristri, takut ih. Siang-siang saat matahari sedang berada dipuncaknya. Setelah satu jam perjalanan akhirnya aku nyampe disana, ya meskipun aku masih harus jalan lumayan jauh dari pintu masuk Gelora Bung Karno Senayan sampe ke JCC-nya tapi aku semangat aja demi ketemu si Ayah.

Setibanya disana aku langsung keliling gedung JCC nyari si Ayah tampil di panggung yang mana,  soalnya disana banyak panggung. Setiap panggung bintang tamunya beda-beda. Aku jalan menyusuri setiap hall dan tiba-tiba denger suara pembawa acara di salah satu panggung, aku berhenti disana dan berharap itu adalah talk show nya si Ayah, udah nyaksiin lumayan lama ternyata bintang tamunya penulis terkenal yang udah nerbitin banyak judul buku, yaitu Tere Liye. Karna firasatku gak enak, alhasil aku langsung ngehubungin salah satu temen yang udah janjian juga mau liat si Ayah.
“Pidi Baiq teh di sebelah mana ya? Satu panggung juga gak sih sama Tere Liye!”.
“Satu panggung bro”.
“Ini udah mulai, tapi kok bukan Pidi Baiq sih, iih aku takut kelewatan!”

Selang beberapa menit kemudian ada pesan masuk di telepon genggamku.
“beda panggung, dia adanya di pojok sebelah balai sidang”
“Ah” jawabku kesal.
Aku langsung bergegas menuju panggung dimana si Ayah berada yang sebelumnya kutanyakan dulu pada seorang security yang bertugas disana.
“pak permisi mau tanya, kalau balai sidang adanya disebelah mana ya?” tanyaku.
Pak security itu pun menjawab “mba dari sini keluar, terus belok kiri”
“ooh gitu, terima kasih pak”.

Setelah keluar dari hall tersebut aku langsung menemukan sebuah panggung dimana kulihat ada begitu banyak orang yang sedang asik tertawa sambil melihat kearah panggung.  Ah! Benar saja, si Ayah sedang asik mendengarkan pembicaraan si bang Boim (penulis buku Lupus). Akupun ikut menikmati talk show tersebut sembari tertawa setiap kali Ayah berbicara hal-hal yang menurutku lucu. Lalu Ayah menyanyikan 3 judul lagu ciptaannya yang merupakan lagu bersama band miliknya The Panasdalam. Salah satunya yang kusuka adalah “Tenang Saja”.

Pada satu kesempatan dimana bang Boim menanyakan adakah diantara kami yang mempunyai lelaki yang mirip dengan Dilan?. Rasanya aku ingin mengangkat tangan dan berkata “ya, aku punya”. Tapi kuurungkan keinginanku tersebut, karna aku tau, si Dilan gadungan ada disitu, nanti dia kege-eran kalo aku bilang begitu. Aku hanya tertawa sambil melihat handphone ditanganku yang sedari tadi masuk notifikasi pesan dari si Dilan gadungan itu.

Lalu kutanya dia “kamu?”. Tak lama ia membalasnya “aku bukan”. Aku tertawa saat membaca pesan tersebut. Dia memang Dilan gadungan, meskipun gitu, dia bilang “biarpun gadungan, aku ikut sholat pas ujian praktek agama”. Aku senyum sambil ketawa pelan.

Jam menunjukkan pukul 3 sore, yang berarti selesai sudah acara talk show tersebut dan dilanjutkan dengan acara book signing oleh Ayah Pidi Baiq bagi siapa saja yang bukunya ingin ia tanda tangani. Aku turut serta mengantri agar kebagian tanda tangan di buku Dilan pertamaku, tapi karna terlalu panjang, akupun memutuskan untuk keluar dari jalur antrian tersebut.

Sebenarnya aku dateng ke JCC bukan cuma karena mau ketemu Ayah Pidi Baiq, tapi mau ketemu sama dia si Dilan gadungan. Dia yang memberitahuku bahwa Ayah Pidi Baiq akan hadir disana. Dia itu menyebalkan, tapi selalu bisa bikin aku senyum bahkan sampai ketawa kalo dia udah berlakon seperti Dilan.

Dia bilang bahwa dia melihatku, tapi aku gak tau dia berada dimana. Ah, dia itu selalu membuatku penasaran. Sama seperti Dilan, meskipun dia bukan Dilan.
Dilan ya Dilan, dia ya dia, aku tak mau membuatnya sama, karena mereka memang berbeda. Karna tak kunjung kutemukan sosoknya di dalam ribuan orang yang turut hadir di acara Indonesia Book Fair tersebut, aku memutuskan untuk mengunjungi stand penerbit bukunya si Ayah Pidi Baiq, yaitu Mizan. Aku mau cari bukunya si Ayah yang judulnya Drunken Molen, dan yess, aku berhasil dapetin buku itu.

Setelah sekian lama dan bikin penasaran, akhirnya si Dilan gadungan itu menunjukkan diri. Tiba-tiba dia berdiri disebelahku yang lagi asik liat-liat buku yang baru saja ku beli dari stand Mizan. Dia kayak hantu, bisa tau aku pake baju apa, handphone ku merk nya apa,  menuju kemana, beli buku apa, sampai akhirnya dia muncul mendadak di sebelahku lalu bilang “aku bukan hantu”. Berbarengan dengan masuknya sebuah pesan dari Dilan gadungan yang berisi “aku bukan hantu”, sama seperti yang dia ucapkan.

Kamipun berkumpul bersama dengan dua orang temannya, yang kemudian dilanjutkan dengan mencari makan karna kami kelaparan. Selesai makan, kami menyusuri jalan di kawasan Gelora Bung Karno menuju Palmerah untuk pulang menggunakan transportasi kereta api.

Jakarta, 6 September 2015.

Iklan