Tag

, , ,

Adikku merengek minta dibelikan sebuah boneka dihari ulang tahunnya. Aku bingung harus membeli boneka macam apa yang dia inginkan. Baiklah, kuputuskan untuk membelinya esok hari. Sebagai kejutan dihari ulang tahunnya.

Hari agak mendung, sepertinya akan segera turun hujan. Tapi tak apa, demi mendapatkan sebuah boneka yang akan kuhadiahkan untuk adikku.

Aku berjalan memasuki sebuah toko boneka, disambut oleh seorang wanita berambut panjang lengkap dengan seragamnya. Kurasa ini toko boneka yang bagus, karena disetiap sudut ruangan dipenuhi banyak boneka lucu, dan beberapa lagi terdapat patung perempuan yang menggunakan baju layaknya wanita asli, atau bisa dibilang semacam barbie dalam ukuran manusia. Keren.

Sedang asik-asiknya melihat koleksi toko boneka tersebut, tiba-tiba seorang anak kecil menarik tanganku, lalu membawaku pada satu boneka yang ditunjuknya. Kemudian aku bertanya “adik mau boneka ini?”, ia hanya mengangguk bisu. Kuambilkan boneka yang ia tunjuk itu lalu memberikannya.
Kurapikan kembali boneka yang jatuh setelah mengambil boneka untuk anak kecil itu, dan setelahnya tak kudapati dia dari pandanganku.

Ah sudahlah, tak perlu ku hiraukan, karna aku ingat bahwa aku masih harus mencari boneka yang akan kuhadiahkan untuk adikku yang sedang menungguku di rumah. Seusai mendapatkan boneka yang menurutku bagus, aku segera membayarnya ke kasir dan segera pulang menuju rumah, berharap ia akan sangat senang dengan boneka yang kupilihkan untuknya.

Disaat sedang menyebrang jalan, aku mendapati handphone ku berdering, segera ku angkat dan “braaakkkk” terdengar suara hentakan keras ditelingaku. Sepertinya ada kecelakaan. Tapi tak kupedulikan. Aku langsung bergegas dan tak sengaja melihat anak kecil yang tadi kutemui di toko boneka tersenyum kepadaku disebrang jalan. Seketika itu pula aku ingat untuk segera memberikan boneka yang telah kubeli tadi kepada adikku.

Setibanya dirumah, aku langsung menemui adikku yang rupanya sedang menangis. Mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi merahnya. Mungkin ia pikir bahwa aku tak akan membelikannya boneka, “hehehe tenang dik aku ingat permintaanmu” kataku dalam hati.

“ini boneka untuk mu, kamu suka kan dengan bonekanya?? ” dia tetap menangis dan tak memperdulikanku. Aku terdiam, “apa dia tak suka dengan boneka yang kupilihkan?” gumamku. Ia masih menangis dengan sendunya. Aku tak tahu bagaimana caranya untuk meredamkan tangisannya itu.

Tak lama kemudian, ibuku masuk menemui kami berdua, ibu memeluk adikku yang sedari tadi menangis tak hentinya dengan muka cemas. Sepertinya adikku memang sedang ingin bersama ibu, bukan aku.

Iklan